Selasa, 28 Maret 2017

Artikel UMKM- Sara Carter

 





MAKALAH EKONOMI KOPERASI DAN UMKM
“DEFINISI DAN UKURAN UMKM”

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah
Ekonomi Koperasi dan UMKM


Dosen Pengampu:
Khasan Setiaji S.Pd, M.Pd

Disusun oleh:
1)      Moh. Kuspihanto                    (7101415272)


JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-NYA, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Ekonomi Koperasi dan UMKM.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1)      Allah SWT, Tuhan semesta alam
2)      Bapak Khasan Setiaji selaku dosen pengampu mata kuliah Ekonomi Koperasi dan UMKM Universitas Negeri Semarang
3)      Ibu dan ayah yang selalu memberikan dukungan, baik moril maupun materiil
4)      Serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian makalah ini
Penulis menyadari bahwa dalam karya tulis ini masih banyak kekurangan, baik dalam segi materi maupun bahasanya, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna pembuatan makalah yang lebih baik pada kesempatan yang akan datang. Penulis berharap semoga karya tulis ini dapat bermanfaat sebagai sarana informasi bagi para mahasiswa.

Semarang,     Oktober 2016


                                                                                        Penyusun



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL                                   
KATA PENGANTAR.................................................................................       i
DAFTAR ISI ……………………………………….……………………....      ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang Masalah..............................................................          1
1.2    Perumusan Masalah ....................................................................          1
1.3    Tujuan .........................................................................................          1
1.4    Manfaat.......................................................................................          1

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Usaha Kecil.....................................................................          2  
2.2 Jumlah Perusahaan Kecil..............................................................          4
2.3 Perbandingan Internasional..........................................................          6
2.4 Tren Statistik UKM......................................................................          9
2.5 Penjelasan atas Perubahan Kepemilikan Bisnis............................          14

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan...................................................................................          24
3.2 Kritik dan Saran ..........................................................................          24

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................          25




BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bab ini dimulai dengan mempertimbangkan sampel dari definisi yang digunakan oleh para peneliti dan pemerintah untuk menjelaskan pengertian dari perusahaan-perusahaan kecil dan menunjukkan bahwa tidak ada definisi yang sama tentang perusahaan-perusahaan kecil. Hal ini telah terbukti dalam penelitian di sejumlah perusahaan di Inggris (UK), Uni Eropa (UE) dan internasional, dan meskipun terdapat masalah dalam menghitung jumlah perusahaan kecil, namun bab ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan kecil merupakan mayoritas jumlah perusahaan dalam perekonomian apapun.
Bukti empiris menunjukkan bahwa di Inggris, dan internasional, telah terjadi peningkatan umum dalam jumlah perusahaan-perusahaan kecil sejak 1980-an dan sebagian besar negara OECD (Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan), ada pengecualian seperti Perancis, Jepang dan Amerika Serikat. Dalam konteks ini, berbagai alasan mengapa perusahaan-perusahaan kecil telah 'kembali muncul' sejak 1980-an, termasuk perubahan dalam struktur biaya industri, pengembangan teknologi yang cepat, inovasi, peningkatan ekonomi jasa, perubahan di pasar tenaga kerja dan bergeser dalam kebijakan pemerintah, meskipun tidak ada penjelasan mendetail tentang hal tersebut, ini memberikan penjelasan tunggal untuk pertumbuhan perusahaan yang lebih kecil.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang muncul dari latar belakang tersebut antara lain :
a. Bagaimana penjelasan tentang perusahaan-perusahaan kecil di tinjau dari definisi internasional ?
b. Bagaimana gambaran tentang isu metodologis yang di hadapi dalam mengukur       perusahaan kecil ?
c. Bagaimana cara menunjukkan bahwa perusahaan kecil merupakan mayoritas           dari perusahaan dalam perekonomian ?
d.  Mengapa jumlah perusahaan kecil meningkat selama 30 tahun terakhir ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan karya tulis ini adalah
a.       Untuk menjelaskan berbagai definisi internasional perusahaan-perusahaan kecil.
b.      Untuk menggambarkan isu metodologi yang dihadapi dalam mengukur perusahaan-perusahaan kecil.
c.       Untuk menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan kecil merupakan mayoritas dari perusahaan dalam perekonomian.
d.      Untuk menjelaskan alasan mengapa jumlah perusahaan yang lebih kecil telah meningkat selama 30 tahun terakhir.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi perusahaan kecil
Tidak ada definisi sederhana mengenai sebuah perusahaan kecil. Salah satu upaya awal untuk memberikan definisi yang diberikan oleh Laporan Bolton (1971). Bolton menyarankan dua definisi untuk perusahaan kecil. Pertama, ia menyarankan pendekatan kualitatif atau secara ekonomi yang mencoba untuk menangkap jangkauan dan keragaman dari perusahaan yang lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan yang lebih besar. Definisi ini menunjukkan bahwa usaha kecil akan seperti itu jika sampai tiga kriteria:
a.Independen (bukan bagian dari perusahaan yang lebih besar);
b.Dikelola secara pribadi (struktur manajemen yang sederhana);
c.Pangsa relatif kecil dari pasar (perusahaan adalah 'penerima' harga daripada   'pembuat' harga).
Kriteria tersebut berguna karena mencerminkan fitur utama dari perusahaan-perusahaan kecil. Selain ukuran sendiri, salah satu faktor yang membedakan perusahaan-perusahaan kecil dari perusahaan yang lebih besar adalah sifat ketidakpastian yang mereka hadapi. Sebagai perusahaan yang lebih kecil sering bergantung pada sejumlah pelanggan dan memiliki portofolio produk yang terbatas (Cosh dan Hughes, 2000), mereka cenderung terkena tingkat ketidapastian yang lebih besar di pasar mereka. Sebaliknya, perusahaan-perusahaan besar yang mampu membatasi ketidakpastian di pasar mereka hanya karena mereka memiliki diversifikasi portofolio produk. Independensi dan sifat pribadi dari perusahaan yang lebih kecil lebih mempromosikan ketidakpastian. Keasey dan Watson (1993) berpendapat bahwa usaha kecil, pemilik atau manajer sering menjalankan kepemilikan tunggal atau kemitraan. Ini berarti bahwa nasib mereka sering terikat langsung dengan keberhasilan atau sebaliknya dari perusahaan: tanpa perlindungan terbatas, pemilik mungkin bertanggung jawab atas hutang mereka jika perusahaan mereka gagal. Pemilik atau manajer perusahaan kecil juga menghadapi, relatif terhadap perusahaan besar, biaya manajemen tetap tinggi. sekali lagi, mungkin membuat situasi mereka genting karena mereka mungkin tidak memiliki keahlian yang diperlukan untuk menghadapi berbagai bidang bisnis (manajemen sumber daya keuangan atau manusia) yang sama-sama baik.
Upaya Bolton untuk merefleksikan situasi ketidakpastian yang dihadapi oleh usaha kecil yang bermasalah. Storey (1994) telah mengkritik Bolton karena sering tidak jelas kapan tepatnya lokus pergeseran kontrol manajemen dari pemilik-manager untuk struktur manajemen fungsional atau hirarki dalam bisnis yang berkembang. Perusahaan yang lari ke ribuan karyawan dapat dijalankan dengan cara yang sangat personal. Storey dan Johnson (1987) juga berpendapat bahwa 'kemerdekaan' adalah konsep yang relatif: beberapa perusahaan, sementara bersifat independen secara hukum, mungkin seluruhnya bergantung pada satu perusahaan besar untuk kegiatan ekonomi mereka. Di sisi lain, beberapa perusahaan dengan dua atau lebih pendirian mungkin mengharapkan masing-masing instansi tersebut untuk berfungsi secara independen. Akhirnya, satu atau dua perusahaan yang mungkin memiliki tingkat kekuatan pasar yang tinggi karena mereka bekerja di pasar yang sangat khusus.
Tabel 2.1 Laporan Bolton (1971) tentang definisi kuantitatif perusahaan kecil
Sektor
Definisi
Manufaktur
200 karyawan atau kurang
Konstruksi
25 karyawan atau kurang
Pertambangan
dan penggalian
25 karyawan atau kurang
Ritel
Omset £50,000 atau kurang
Aneka macam jasa
Omset £50,000 atau kurang
Perdagangan motor
Omset £100,000 atau kurang
Perdagangan grosir
Omset £200,000 atau kurang
Transportasi darat
Lima kendaraan atau kurang
Katering
Semua tidak termasuk kelipatan dan rumah pembuatan bir yang dikelola


Sumber: Komite Bolton (1971)

Bolton juga mengusulkan definisi yang lebih kuantitatif dari perusahaan yang lebih kecil. Sekali lagi, kekhawatiran itu untuk menangkap heterogenitas perusahaan-perusahaan kecil. Hal ini karena tidak ada ukuran tunggal seperti aset, omset, profitabilitas atau pekerjaan mungkin untuk sepenuhnya memperhitungkan ukuran suatu perusahaan. Sebagai contoh, produsen otomotif mungkin menganggap dirinya kecil jika mempekerjakan 300 pekerja. Suatu perusahaan dengan ukuran yang sama, bagaimanapun, dapat dianggap besar jika berada dalam skala tesebut. Bolton, karena itu (Tabel 2.1), menyarankan berbagai langkah-langkah untuk mencerminkan heterogenitas sektoral. Oleh karena itu, kerja digunakan untuk sektor seperti manufaktur, omset untuk perdagangan bermotor, aset untuk transportasi dan kepemilikan untuk katering.
Ada masalah yang jelas dengan definisi tersebut. Untuk memulai, meskipun muncul 'membumi' dalam perbedaan antara sektor, banyak usaha kecil pemilik-manajer mungkin tidak setuju dengan definisi tersebut baik dulu maupun sekarang (Woods et al., 1993). Mungkin masalah yang lebih relevan adalah bahwa langkah-langkah seperti omset dan pekerjaan yang terkikis dari waktu ke waktu oleh pengaruh inflasi dan produktivitas masing-masing. Sama, tidak adanya definisi yang seragam membuatnya sangat sulit untuk memetakan perbedaan atau persamaan antara negara-negara.
Definisi yang lebih seragam telah diadopsi oleh Uni Eropa. Ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996, tetapi telah diupdate pada tahun 2004 untuk menjelaskan dampak inflasi dan produktivitas perubahan. Tabel 2.2 menunjukkan bahwa Uni Eropa menganggap ada tiga jenis perusahaan yang lebih kecil yaitu mikro, kecil dan menengah. Masing-masing memiliki perbedaan dari segi karyawan, omset dan neraca. Tiga ukuran kelompok dari bisnis independen ini kemudian disebut usaha kecil dan menengah (UKM).
Tabel 2.2 Definisi Uni Eropa UKM
Kategori perusahaan
Jumlah pekerja
 €Omset
Neraca keuangan
Mikro
<10
2m
2m
Kecil
<50
10m
10m
Sedang
<250
50m
43m




Sumber: Uni Eropa (2005)
Meskipun direkomendasikan oleh Uni Eropa, definisi ini hanya mengikat bagi lembaga atau bisnis yang mencari dana di kawasan Uni Eropa. masing-masing negara dapat mengadopsi interpretasi mereka sendiri tentang UKM. Pemerintah Inggris, misalnya, cenderung mendefinisikan UKM sebagai:
a.    Perusahaan mikro: 0-9 karyawan
b.    Perusahaan kecil: 0-49 karyawan (termasuk mikro)
c.    Perusahaan sedang: 50-249 karyawan.
Secara internasional negara-negara seperti Amerika Serikat atau Kanada mendefinisikan UKM sebagai salah satu yang mempekerjakan kurang dari 500 karyawan. Hong Kong memiliki definisi alternatif : UKM perusahaan manufaktur dengan kurang dari 100 karyawan atau non-manufaktur dengan kurang dari 50 karyawan. Hal ini jelas membuat sulit untuk membandingkan UKM di berbagai negara, terutama yang berkaitan dengan omset atau aset, studi transnasional, oleh karena itu, cenderung untuk berkonsentrasi pada ambang batas kerja sederhana ketika mengukur UKM.
Bagian ini telah menunjukkan bahwa tidak ada yang mudah, sederhana atau optimal pada definisi perusahaan kecil. Pada intinya, definisi apa pun yang digunakan melibatkan beberapa bentuk trade-off. Definis yang di tawarkan oleh Bolton adalah wawasan ke dalam karakteristik manajerial dan perilaku perusahaan yang lebih kecil. definisi tersebut, meskipun, tidak dapat dengan mudah disamaratakan di seluruh industri dan wilayah atau negara.
2.2 Jumlah perusahaan kecil
Jika ada kesulitan tentang mendefinisikan perusahaan kecil, ada juga isu metodologi dalam mengukur jumlah perusahaan yang lebih kecil. Bagian ini membahas masalah ini tetapi juga menunjukkan bahwa UKM hampir semua perusahaan, memberikan kontribusi besar untuk lapangan kerja secara keseluruhan dalam ekonomi tertentu.
Salah satu alasan untuk kurangnya presisi dalam hal jumlah aktual perusahaan dalam perekonomian adalah bahwa tidak ada sensus kegiatan ekonomi. Bahkan jika ada, masih akan ada masalah kegiatan ekonomi informal. Misalnya, tingkat aktivitas ekonomi ilegal seperti narkoba sulit untuk memperkirakan (Fairlie, 2002). Sama, bentuk yang lebih legal yang paruh waktu atau kegiatan ad hoc seperti industri rumahan atau jaringan pemasaran (individu yang distributor wiraswasta menjual kepada keluarga dan teman-teman (Pratt, 2000) mereka) juga sangat sulit untuk dijabarkan. Individu yang mungkin dianggap karyawan sering menemukan diri mereka 'palsu' wiraswasta karena memungkinkan untuk mereka atau 'majikan' mereka untuk mengurangi kewajiban pajak mereka (OECD, 2000).
Banyak dari apa yang diketahui tentang UKM sebagian besar berasal dari dua sumber. Pertama, pemerintah di seluruh dunia maju mengandalkan Survei Angkatan Kerja (LFS) untuk memperkirakan jumlah individu yang bekerja sebagai wiraswasta dan bisnis tak berhubungan. Kedua, pemerintah sering menggunakan register tertentu seperti pajak pertambahan nilai (PPN) atau kredit referensi perusahaan (mis Experian, Dun dan Bradstreet) untuk memperkirakan jumlah perusahaan yang didirikan. Ada sejumlah masalah dengan kedua sumber data tersebut.
Dalam hal data LFS, individu dapat memilih, untuk alasan apa pun, untuk menggambarkan status ekonomi mereka. Hal ini juga kemungkinan bahwa LFS meremehkan orang muda karena mereka cenderung lebih pintar dalam mobile daripada orang yang lebih tua. Masalah terbesar, dengan data LFS, bahwa itu adalah data survei. Dengan demikian, itu adalah penilaian yang tidak lengkap dari kegiatan usaha tak berhubungan: misalnya, populasi perusahaan untuk Inggris direvisi ke atas pada tahun 2003 karena ditemukan LFS bahwa Inggris telah meremehkan jumlah perusahaan lebih dari 70.000 perusahaan.
Register perusahaan juga memiliki imbas terkenal. referensi kredit data mungkin menawarkan cakupan yang lebih baik dari yang lebih besar dari perusahaan- perusahaan di sektor-sektor tertentu (manufaktur dan konstruksi), dan perusahaan yang mencari pembiayaan eksternal (Storey dan Johnson, 1986, 1987). Data pendaftaran PPN sama bermasalah. Pemerintah berusaha untuk mengurangi beban regulasi pada bisnis kecil dapat memilih untuk secara substansial meningkatkan ambang PPN. Hal ini terjadi di Inggris pada tahun 1991 ketika pemerintah meningkatkan ambang PPN dari tingkat omset tahunan sebesar £25.400 sampai £35.000. Atau, jika mereka sedang mencari untuk menaikkan pajak mereka dapat menurunkan ambang batas. Dalam kedua kasus, ini memiliki dampak pada ketahanan data PPN time-series.
Ada masalah lain dengan data PPN. perusahaan tertentu seperti produsen pakaian anak-anak dikecualikan dari pendaftaran PPN karena mereka tidak bertanggung jawab untuk PPN. Pendaftaran PPN juga tidak identik dengan perusahaan 'lahir'. Suatu perusahaan dapat mengambil beberapa tahun untuk mencapai titik di mana penjualan mereka terdaftar untuk PPN. Demikian pula, PPN deregistrasi tidak berarti bahwa perusahaan telah 'gagal'. Perusahaan mungkin hanya deregister karena mereka telah jatuh di bawah ambang batas omset.
Estimasi terbaik, oleh karena itu, jumlah perusahaan sering berasal dari campuran informasi survei dan informasi pendaftaran. Di Inggris, populasi perusahaan, seperti Tabel 2.3 menunjukkan jumlah lebih dari 4 juta pada tahun 2003. Sebagian besar dari ini, beberapa 2,9 juta (70,1%) dari perusahaan, terbuat dari perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki karyawan (angka bagi karyawan (337.000 atau 1,4%) merupakan mitra bisnis).
Dalam hal perusahaan-perusahaan dengan karyawan, tabel menunjukkan bahwa ada 1,23 juta perusahaan tersebut. Sekali lagi, sebagian besar dari usaha kecil baik mempekerjakan 1-4 karyawan (0,8 juta) atau 5-9 karyawan (0,22 juta). Secara kumulatif, usaha mikro (0-9 karyawan) mewakili 95% dari semua perusahaan, Seperempat dari total lapangan kerja dan 22,3% dari omset. Tabel 2.3 juga menunjukkan bahwa jumlah perusahaan menurun dengan ukuran kerja: 170.000 perusahaan memiliki rasio antara 10-49 karyawan, sementara hanya ada 29.000 perusahaan dengan rasio antara 50 dan 249 karyawan. Meskipun demikian, gambaran keseluruhan menunjukkan bahwa UKM (<250 karyawan) mewakili 99,8% dari perusahaan. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa UKM merupakan kegiatan usaha. Ini mengabaikan fakta bahwa meskipun perusahaan besar hanya mewakili 0,2% dari perusahaan, mereka menyumbang 52,4% dari pekerjaan dan 49,8% dari penjualan di tahun 2003.
2.3 Perbandingan Internasional
Tabel 2.4 menunjukkan perkiraan jumlah perusahaan di Uni Eropa (EU-15). Italia, Jerman, Spanyol, Prancis dan Inggris (agar) jelas memiliki jumlah terbesar dari perusahaan di Uni Eropa. Di semua negara Uni Eropa, UKM menyumbang lebih dari 99% dari jumlah total perusahaan.
Tabel 2.3 Jumlah perusahaan, tenaga kerja dan omset di seluruh perekonomian dengan jumlah karyawan UK mulai 2003


Jumlah
Pekerjaan
Karyawan
Omset1
Perusahaan
Pekerjaan
Karyawan
Omset1


Perusahaan
(000s)
(000s)
(£ juta)
(%)
(%)
(%)
(%)
Ekonomi Keseluruhan








Semua perusahaan
4,097,095
27,959
24,337
2,400,741
100.0
100.0
100.0
100.0
With no
2,870,180
3,159
337
177,506
70.1
11.3
1.4
7.4
Employees








All employers
1,226,915
24,800
24,000
2,223,235
29.9
88.7
98.6
92.6
1–4

802,860
2,311
1,733
213,411
19.6
8.3
7.1
8.9
5-9

215,260
1,517
1,403
143,977
5.3
5.4
5.8
6.0
10 –19
112,780
1,575
1,515
157,881
2.8
5.6
6.2
6.6
20 – 49
59,015
1,822
1,790
184,540
1.4
6.5
7.4
7.7
50 –99
17,740
1,241
1,234
137,197
0.4
4.4
5.1
5.7
100 -
199
9,155
1,274
1,270
144,712
0.2
4.6
5.2
6.0
200
–249
1,855
414
413
45,267
0.0
1.5
1.7
1.9
250
– 499
3,770
1,317
1,315
175,268
0.1
4.7
5.4
7.3
500 atau lebih
4,485
13,330
13,326
1,020,983
0.1
47.7
54.8
42.5










1.      Semua angka turn over mengecualikan Bagian J (intermediasi keuangan) di mana omset tidak tersedia secara sebanding.
2.      Dengan perusahaan yang berbentuk kepemilikan tunggal dan kemitraan yang hanya terdiri dari pemilik-manajer wiraswasta (s), dan perusahaan yang terdiri hanya seorang direktur karyawan.

Sumber: Small Business Service (2004); (www.sbs.gov.uk/smes)
Tabel 2.4 UKM di Uni Eropa-15

Jumlah
UKM sebagai %
Ukuran kerja lapangan
UKM sebagai % dari

Perusahaan (000s)
dari perusahaan
rata-rata
Karyawan
Austria
268
99.63
11
71.85
Belga
438
99.77
7
69.45
Denmark
206
99.51
10
72.62
Finlandia
222
99.55
7
64.54
Prancis
2,501
99.76
8
66.63
Jerman
3,019
99.64
10
64.76
Yunani
771
100.00
2
86.55
Irlandia
97
100.00
10
69.75
Italia
4,489
99.93
4
83.55
Luksemburg
24
100.00
9
73.33
Belanda
572
99.65
12
65.21
Portugal
694
99.86
5
78.91
Spanyol
2,677
99.89
6
81.66
Swedia
486
99.79
7
67.97
United Kingdom
2,234
99.64
11
59.20
Uni Eropa-15
18,698
99.79
7
69.74





Sumber: ENSR (2004); diadaptasi dari Tabel IV.2, IV.3 dan IV.4

Ada perbedaan, meskipun, antara profil kerja negara-negara Eropa. Tabel 2.4 menunjukkan bahwa ada distribusi dalam hal ukuran kerja rata-rata bisnis. Negara di bawah rata-rata Uni Eropa (tujuh karyawan) mencakup negara-negara Mediterania seperti Yunani dengan dua karyawan per perusahaan, Italia dengan empat, Portugal dengan lima dan Spanyol dengan enam per perusahaan. Sebagai perbandingan, negara-negara seperti Belanda, Inggris dan Austria memiliki perusahaan yang, rata-rata, lebih cenderung menggunakan jumlah yang lebih besar dari individu. Sebuah distribusi yang sama juga terlihat ketika kita mempertimbangkan saham kerja dari masing-masing negara dalam kaitannya dengan UKM dan perusahaan besar. Negara-negara seperti Yunani, Italia, Spanyol dan Portugal lebih banyak mengandalkan UKM dari negara seperti Inggris, Finlandia dan Jerman. Misalnya, UKM menyumbang sekitar 80% dari tenaga kerja di empat negara Mediterania sementara di Inggris, Finlandia dan Jerman mereka berkontribusi kurang dari 65% dari total lapangan kerja. Perbedaan-perbedaan ini telah menyebabkan pernyataan bahwa ekonomi didominasi oleh perusahaan-perusahaan kecil berukuran kurang makmur: 'ada korelasi yang kuat antara ukuran perusahaan rata-rata dan kemakmuran ekonomi, yang diukur dengan PDB per kapita' (ENSR, 2004: 28).
Perbandingan antara Uni Eropa, Jepang dan Amerika Serikat lebih menunjukkan pentingnya UKM. Tabel 2.5 menunjukkan lagi bahwa lebih dari 99% dari perusahaan di tiga wilayah ekonomi tersebut adalah UKM. Sama, Uni Eropa dan Amerika Serikat memiliki distribusi yang sama dalam hal persentase pangsa usaha mikro, kecil dan menengah. Hal ini juga berlaku untuk UKM Uni Eropa dan AS dalam hal ukuran lapangan kerja rata-rata dan berbagi kerja. Namun demikian, Uni Eropa dan Jepang berbeda dengan AS dalam hal pangsa kerja usaha mikro dan usaha skala besar (LSEs). Di sini, rata-rata usaha mikro AS kemungkinan menjadi pemilik tunggal sedangkan di Uni Eropa rata-rata jumlah karyawan di sebuah perusahaan berukuran mikro adalah tiga. Sebuah kontras yang lebih besar, meskipun, adalah pangsa kerja LSEs. Di AS, LSEs menyumbang lebih dari setengah dari semua pekerjaan; di Jepang dan Uni Eropa, LSEs berkontribusi sepertiga dari kerja.
Bagian ini telah menunjukkan - meskipun masalah keberadaan mereka dalam memperkirakan jumlah perusahaan kecil dalam ekonomi yang diberikan - bahwa UKM di Inggris dan internasional merupakan sekitar 99% dari semua perusahaan dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pekerjaan. Hal ini juga menunjukkan bahwa ukuran rata-rata perusahaan cenderung bahwa dari usaha mikro (0-9 karyawan). Meskipun demikian, perusahaan besar tetap penting untuk sangat banyak ekonomi, khususnya di Amerika Serikat.
Tabel 2.5 UKM di Uni Eropa, Jepang dan AS  (Sumber: Tabel 3.5, ENSR (2004))



UKM

LSE
Total

Mikro
Kecil
                         
Sedang
Total


Perusahaan US, 2000







Jumlah perusahaan (000s)
19,988
1,009

167
21,164
59
21,223
Persentase perusahaan
94.18
4.75

0.79
99.72
0.28

Ukuran lapangan kerja rata-rata
1
20

94
3
1,119
6
Pembagian pekerjaan (%)
22
15

12
49
51









Perusahaan Jepang, 2001







Jumlah perusahaan (000s)
n/a
n/a

n/a
4,690
13
4,703
Persentase perusahaan




99.72
0.28

Ukuran lapangan kerja rata-rata
n/a
n/a

n/a
5
975
8
Pembagian pekerjaan (%)
n/a
n/a

n/a
67
33









Perusahaan Eropa –







19 negara, 2003







Jumlah perusahaan (000s)
17,820
1,260

180
1,927
40
19,310
Persentase perusahaan
92.28
6.53

0.93
9.98
0.21

Ukuran lapangan kerja rata-rata
3
19

98
5
1,052
7
Pembagian pekerjaan (%)
39
17

13
70
30










2.4 Tren statistik UKM
Pentingnya ekonomi UKM dalam hal pekerjaan dan output tidak selalu jelas. Pada bagian ini, pertimbangan diberikan untuk bukti empiris dari Inggris dan internasional yang menunjukkan bahwa UKM sebelum 1980-an sedang menurun baik secara numerik dan dalam kepentingan ekonomi. Sejak 1980-an, jumlah UKM telah tumbuh secara dramatis. Bagian ini melanjutkan dengan menunjukkan bahwa 'peningkatan U'berbentuk umum atau ini tidak umum untuk semua negara-negara OECD. Khususnya, beberapa negara seperti Perancis dan Jepang telah melihat jumlah mereka dari pemilik usaha menurunkan sementara AS memiliki 'distribusi berbentuk n'- untuk tarif nya kepemilikan bisnis. Melihat di situasi pertama sebelum 1980-an, awal bukti empiris dari data UK kerja manufaktur menunjukkan bahwa pangsa kerja perusahaan manufaktur kecil (<200 karyawan) menurun dari sekitar 45% pada tahun 1920 dan 1930-an hingga mencapai sekitar 30% di 1960 dan 1970 (Gambar 2.1).
Gambar 2.3a Persentase total lapangan kerja manufaktur di industri kecil UK (<200 karyawan), 1924-1988
Sumber: Gambar 2.2, Storey (1994)
Gambar 2.3b UK wirausaha, 1959-2004 (disesuaikan secara musiman)
Sumber: Gambar 1.2, Kantor Statistik Nasional (2005). www.statistics.gov.uk
Bukti lebih lanjut dari pergeseran dari usaha kecil ditunjukkan pada Gambar 2.2. Hal ini menunjukkan tingkat wirausaha (sebagai persentase dari pekerjaan tenaga kerja) dari 1959- 2004. Hal ini menunjukkan bahwa setelah 1959 tingkat wirausaha jatuh ke bawah 8%, tetapi menunjukkan pemulihan moderat pada 1970-an. Setelah tahun 1979, tingkat wirausaha ditembak pada tahun 1980 dan 1990-an: pada 1995 tingkat wirausaha telah mencapai hampir 14% yang merupakan peningkatan yang sedikit lebih dari 50% di tingkat wirausaha di 15 tahun.
Perubahan-perubahan dalam tingkat wirausaha juga tercermin dalam perubahan total populasi UK perusahaan dan dibahas secara lebih rinci dalam Bab 3. Gambar 2.3 menunjukkan bahwa jumlah perusahaan di Inggris meningkat dari 2,4 juta pada tahun 1980 ke tingkat 4 juta pada tahun 2003. Hal ini mewakili lebih dari 50% peningkatan dalam populasi perusahaan UK. Sebagian besar peningkatan ini terjadi pada tahun 1980 ketika jumlah perusahaan meningkat menjadi sekitar 3,8 juta. Gambar 2.3 lebih lanjut menunjukkan, kecuali untuk periode resesi di awal 1990-an, bahwa populasi perusahaan tetap cukup konstan sejak tahun 1980-an. Itu akan muncul, setidaknya untuk Inggris, bahwa UKM yang membuat sebagian besar dari semua perusahaan 'kembali muncul' setelah tahun 1980-an. Ini meningkat dramatis dalam aktivitas usaha kecil pada 1980-an dan awal 1990-an, dan stabilisasi selanjutnya dari populasi perusahaan, mungkin fenomena khas UK. bukti awal dari Loveman dan Sengenberger (1991) studi enam negara OECD pada 1980-an (Jepang, Perancis, Jerman, Italia, Inggris dan Amerika Serikat), bagaimanapun, menunjukkan bahwa pangsa kerja UKM di negara-negara ini secara luas mengikuti pola berbentuk ‘U’. Di AS, misalnya, pangsa usaha kecil 'kerja adalah 41.300.000 pada tahun 1958. Hal ini jatuh ke 39.900.000 pada tahun 1967 sebelum naik ke 45.700.000 pada tahun 1982.
Gambar 2.3c tentang populasi perusahaan di UK tahun 1980-2003 sbb :
 Sumber: Dinas Usaha Kecil (2005)
Blanchflower (2004) menunjukkan bahwa dalam hal wirausaha (persentase kerja non-pertanian), pada tabel 2.6. Blanchflower menunjukkan bahwa hanya ekonomi tertentu (UK, Australia, Selandia Baru, Meksiko dan Irlandia) terjadi peningkatan yang stabil dalam tarif wirausaha mereka selama 50 tahun terakhir.
Negara-negara lain tidak menampilkan pola ini. Misalnya, AS memiliki, dengan pengecualian dari pemulihan tahun 1970-an, terlihat penurunan mantap dalam laju wirausaha. Hal ini juga umum untuk ekonomi Austria, Denmark, Perancis, Jepang dan Norwegia. ekonomi lainnya, mungkin lebih sesuai dengan statistik UK, menunjukkan 'pola kerja mandiri berbentuk ‘U’. Oleh karena itu, Kanada, Italia, Belanda dan Portugal menunjukkan tingkat jatuh pada 1970-an dan 1980-an sebelum kembali ke tingkat yang lebih tinggi dari wirausaha baru-baru ini. Negara-negara lain (Belgia, Yunani dan Jerman), bisa lebih dicirikan sebagai konstanta sejak tarif wirausaha di negara-negara ini tetap relatif stabil selama 50 tahun terakhir.
Wirausaha adalah hanya satu ukuran aktivitas perusahaan. Ukuran mungkin lebih lengkap adalah bukti yang diberikan oleh data COMPENDIA yang berisi tarif kepemilikan bisnis (didefinisikan sebagai jumlah tak berhubungan dan dimasukkan non-pertanian wiraswasta sebagai bagian dari angkatan kerja) untuk 23 negara OECD selama periode 1972 -2002. Dalam Tabel 2.7 kita dapat melihat bahwa tingkat kepemilikan bisnis rata-rata untuk 23 negara-negara ini adalah 10% di tahun 1972. Angka ini turun sepanjang sisa tahun 1970-an dan awal 1980-an sebelum kembali naik level pada 1972 dan 1986. Setelah itu,keseluruhan, rata-rata tingkat di semua 23 negara adalah berbentuk 'U' untuk periode 1972-2002.
Tabel 2.6 Wirausaha (% dari semua kerja non-pertanian) di negara-negara OECD yang dipilih, 1956-2002

1956
1966
1976
1986
1996
2002
Australia

10.2
11.1
12.8
11.9
12.1
Austria

13.6a
9.5
6.3
7.0
7.8b
Belgia
13.0
14.4
11.4
13.1
14.5
14.1c
Kanada
9.6
7.7
6.1
7.2
9.2
8.7
Denmark
15.5d
14.3f
9.6
7.1
7.2
7.2
Prancis
19.5
14.2
10.9
9.8
7.7
6.7
Jerman
10.1e
8.7
8.8
8.7
9.0
9.5
Yunani
30.9d

30.9i
29.0
29.1
26.4
Irlandia

9.8
10.6
11.1
12.9
12.7
Italia
27.6k
26.1
22.5
22.6
24.3
23.2
Jepang
22.8
15.6
14.7
13.6
10.1
9.1
Meksiko

19.0h
21.6l
20.7m
27.4
27.2
Belanda
16.6
14.7j
8.9
8.2
9.9
9.9
Selandia baru
9.3j
8.3
9.5
13.5
16.6
15.8
Norwegia
10.9
9.5
7.1
6.6
5.5
4.9
Portugal
16.7
15.0
11.8
16.9
19.9
17.7
Inggris
6.4
5.6
7.0
10.8
12.0
11.0
Amerika Serikat
10.3
8.7
6.8
7.4
7.3
6.4







Catatan: a=1968; b=2001; c=1999; d=1960; e=1.957; f=1.965; g=1959; h=1970; i=1977; j=1961; k=1958; l=1980; m=1990; n=1988
Sumber: Blanchflower (2004), Statistik OECD Angkatan Kerja
Empat kelompok yang dapat dilihat dari tabel 2.7. Yang pertama dari kelompok ini adalah negara-negara yang mengalami peningkatan bertahap dalam tingkat kepemilikan bisnis mereka selama periode tertentu (lihat Tabel 2.8). Negara ‘Increasers’ ini mencakup tiga negara Mediterania (Yunani, Italia, dan Portugal) serta negara-negara yang tampaknya berbeda seperti Finlandia, Inggris, Kanada dan Swiss. Dalam kelompok ini, juga jelas bahwa negara-negara dengan tingkat tertinggi dari kepemilikan bisnis pada tahun 1972 cenderung memiliki tingkat tertinggi pada tahun 2002. Selama periode tersebut, oleh karena itu, ada sedikit tanda konvergensi dalam kelompok ini : tiga negara Mediterania memiliki harga (mulai dari 11,2% menjadi 16,1% pada tahun 1972 dan 13,7% menjadi 19,3% pada tahun 2002) yang terus-menerus di atas bahwa dari Finlandia dan Swiss (6,6% pada tahun 1972 dan 7,6-7,9% pada tahun 2002). Satu-satunya negara untuk mengubah posisi relatif pada tahun 1972 adalah Irlandia. Pada tahun 1972 itu memiliki tingkat kepemilikan bisnis dari 7,7% yang hanya di bawah tingkat UK. Pada tahun 2002, Irlandia memiliki tingkat yang 0,5% di atas bahwa dari Inggris.
Hal ini lebih lanjut terbukti dari Tabel 2.8 dan data dalam Tabel 2.7 bahwa ada sekelompok negara (Perancis, Luxemburg, Jepang dan Norwegia) yang telah melihat penurunan keseluruhan tarif mereka dari kepemilikan bisnis. Sebagai contoh, negara Perancis (11,3%) dan Jepang (12,5%) pada tahun 1972 memiliki tingkat kepemilikan bisnis yang jauh di atas rata-rata dari 10 %. Angka ini menurun pada tahun 1970-an dan 1980-an sejalan dengan rata-rata OECD (Organisasi Untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan) namun pada 1990-an tarif di empat negara ‘decliner’ tidak membaik. Masing-masing dari empat negara pada tahun 2002 memiliki tingkat kepemilikan bisnis yang berada di bawah rata-rata di tingkat 10,8 %.
Tabel 2.8 Persekutuan 23 negara OECD (Organization of Economic Co-operation and
Development)
Increasers
Decreasers
Bentuk ‘U’
‘Outlier’
Yunani
Perancis
Spanyol
Denmark
Italia
Luxemburg
Islandia
Australia
Portugal
Jepang
Belgia
Amerika Serikat
Selandia Baru
Norwegia
Belanda

Kanada

Jerman

Irlandia

Austria

Inggris

Swedia

Finlandia



Swiss






Tabel 2.7 Tingkat persentase kepemilikan bisnis (jumlah pemilik usaha / total angkatan kerja)

1972
1974
1976
1978
1980
1982
1984
1986
1988
1990
1992
1994
1996
1998
2000
2002

















Australia
12.6
13.7
14.7
16.0
16.8
16.1
16.0
16.5
16.4
16.3
16.9
17.1
15.5
15.6
15.8
16.4
Austria
9.3
8.1
7.7
7.7
7.3
6.5
6.5
6.6
6.9
7.2
6.9
7.2
7.4
8.0
8.3
8.3
Belgia
10.5
10.0
9.8
9.9
9.8
9.9
10.2
10.6
10.9
11.2
11.4
11.6
11.9
11.8
11.7
11.3
Kanada
7.9
7.5
7.8
8.5
8.7
9.0
10.0
10.0
10.6
10.8
10.9
12.1
12.8
14.0
13.1
12.2
Denmark
8.2
8.1
8.1
7.9
7.4
7.0
6.6
6.3
5.6
6.3
5.8
5.9
6.4
6.4
6.1
6.7
Finlandia
6.6
6.2
5.9
5.9
6.4
6.2
6.6
6.6
7.6
8.1
7.5
7.7
8.0
8.2
8.1
7.9
Perancis
11.3
10.9
10.5
10.3
10.1
10.0
9.8
9.8
9.9
9.8
9.6
9.0
8.8
8.4
8.3
8.1
Jerman
7.6
7.3
7.0
6.7
6.6
6.6
6.8
6.9
7.0
7.2
7.3
7.8
8.2
8.5
8.7
8.6
Yunani
16.1
17.3
17.9
18.5
18.2
18.6
17.7
18.2
18.6
19.4
20.2
20.1
19.7
19.3
19.1
19.3
Islandia
11.1
10.2
9.9
10.0
8.8
8.6
9.1
9.9
10.1
10.9
11.7
12.5
13.0
13.2
13.3
12.3
Irlandia
7.7
8.2
8.2
8.2
8.6
8.3
8.9
8.7
10.1
10.9
11.1
11.3
11.2
11.3
11.3
11.2
Italia
14.3
14.4
14.2
14.6
14.8
15.8
16.5
16.7
16.9
17.5
17.9
17.7
18.3
18.2
18.5
18.3
Jepang
12.5
12.7
12.6
13.0
13.1
12.9
12.6
12.5
12.3
11.6
11.0
10.5
10.1
10.0
9.7
9.2
Luksemburg
10.7
10.0
9.3
9.2
8.7
8.2
8.3
7.8
7.5
6.9
6.4
6.7
6.7
6.3
5.9
5.4
Selandia baru
10.6
10.2
10.2
9.5
9.0
10.1
11.4
11.5
11.4
11.5
12.3
12.9
13.9
13.8
14.2
13.5
Norwegia
9.7
9.2
8.9
8.7
8.4
8.6
8.7
8.4
8.4
7.7
7.8
7.8
7.1
6.9
6.4
6.5
Portugal
11.3
11.0
11.0
11.7
11.9
11.8
10.6
10.8
11.6
12.9
15.0
15.3
15.6
14.4
13.5
13.7
Spanyol
11.8
11.6
10.9
10.7
11.0
10.8
11.2
11.4
12.3
12.3
12.9
12.6
13.0
13.0
12.6
12.9
Swedia
7.4
7.1
6.8
6.8
7.0
7.4
7.2
6.6
6.4
6.9
7.2
8.0
8.1
8.2
8.3
8.1
Swiss
6.6
6.5
6.9
6.8
6.5
6.6
6.8
7.0
7.1
7.3
7.0
7.4
8.5
9.1
8.7
7.6
Belanda
10.0
9.7
9.2
8.7
8.5
8.1
8.1
8.2
8.2
8.5
8.9
9.7
10.2
10.4
10.9
10.8
Inggris
7.8
7.7
7.4
7.1
7.4
8.2
8.6
8.9
10.1
11.2
10.5
11.1
11.1
11.0
10.5
10.7
Amerika serikat
8.0
8.2
8.1
8.8
9.5
9.9
10.4
10.3
10.7
10.6
10.3
10.5
10.4
10.3
9.8
9.5
Rata-rata
10.0
9.8
9.7
9.8
9.8
9.8
9.9
10.0
10.3
10.6
10.7
11.0
11.1
11.1
11.0
10.8


















Sumber: EIM Perbandingan Kewirausahaan Data untuk Analisis International (COMPENDIA, 2002,1)

Oleh karena itu, dari tingkat kepemilikan usaha (11,9%) yang berada di atas Portugal (11,3%) pada tahun 1972, tahun 2002 situasi telah terbalik. Spanyol memiliki tingkat yang lebih baik (12,9%) di bandingkan dengan Portugal (13,7%). Situasi yang sama ini terbukti dengan tarif Austria. Data dari tabel 2.7 juga menunjukkan bahwa Swedia juga memiliki hal tersebut , pada kenyataannya bentuk dua ‘U’ terpisah per periode. Periode pertama adalah tahun 1972 dan 1982. Tarif di sini jatuh dan pulih pada tahun 1972 . Setelah tahun 1982 tarif  jatuh lagi  sebelum kembali ke bisnis yang memiliki tarif kepemilikan yang lebih tinggi.
Tabel 2.8 menunjukkan bahwa ada tiga negara yaitu Denmark, Australia, dan Amerika Serikat yang dapat di gambarkan sebagai outlier di dalam karena negara-negara tersebut tidak cocok dengan pola yang  jelas di dalamnya. Denmark tidak biasa dalam arti bahwa mereka tidak seperti negara-negara kebanyakan, tarif kepemilikan usaha menurun pada 1970-an dan 1980-an, Denmark stabil dari tahun 1988 sekitar 6 %. Australia juga berbeda dari negara-negara lain karena laju kepemilikan bisnis naik dari 12,6 % pada tahun 1972 menjadi 16 % pada tahun 1978. Data dari tabel 2.7 menunjukkan bahwa tingkat kepemilikan bisnis di Australia membaik, kecuali pada pertengahan tahun 1990-an sekitar 16 %. Outlier ketiga adalah AS. Pola di sini dapat di gambarkan dengan bentuk ‘n’ dalam tarif kepemilikan usaha, meningkat dari 8 % pada tahun 1972 ke angka 10,7 % pada tahun 1988 sebelum jatuh ke angka 9,5 % pada tahun 2002. Bagian ini menunjukkan bahwa perusahaan- perusahaan kecil kembali muncul di Inggris. Bahkan dari tahun 1980 baik wirausaha dan bisnis yang lebih umum, data kepemilikan menyarankan bahwa banyaknya perusahaan di Inggris meningkat sebesar 50 % pada tahun 1980–an. Sejak itu, dengan pengecualian periode resesi dari awal 1990-an, tingkat kepemilikan usaha meningkat perlahan sejak tahun 1995. Bukti ini selaras dengan data internasional bahwa tarif kepemilikan bisnis di Inggris telah meningkat.
Bagian ini menunjukkan bahwa mayoritas negara sudah mengikuti pola kepemilikan usaha berbentuk ‘U’. Tapi, terdapat pengecualian untuk beberapa negara-negara ‘decreasers’ (misalnya Perancis dan Jepang) atau negara yang memiliki pola tidak biasa (misalnya AS) yang berpola ‘n’.
2.5 Penjelasan atas Perubahan Kepemilikan Bisnis
Mengingat heterogenitas dari perubahan tarif kepemilikan bisnis selama 30 tahun terakhir atau lebih. Tidak mungkin ada penjelasan yang cocok untuk perubahan tersebut. Bukti dari bagian sebelumnya jelas menunjukkan bahwa menjadi di atas atau di bawah rata-rata untuk 23 negara-negara tersebut tidak selalu menunjukkan kemungkinan arah perubahan di tingkat kepemilikan bisnis. Negara- negara yang memiliki kemampuan di atas rata-rata seperti Jepang dan Perancis kemudian melihat bahwa tarif mereka menurun. Australia juga berada di atas rata-rata pada tahun 1972 tetapi kemudian memiliki tarif kepemilikan bisnis yang turun dan kembali di atas rata-rata. Demikian pula, negara-negara seperti Kanada atau Irlandia mulai di bawah rata-rata dan di atas rata-rata pada tahun 2002.
Beberapa faktor yang berusaha menjelaskan perubahan ini di sajikan setelah sub bagian ini. Faktor-faktor tersebut terdiri dari perubahan dalam struktur biaya industri, percepatan pengembangan teknologi, inovasi, peningkatan jasa ekonomi, perubahan di pasar tenaga kerja dan pergeseran dalam kebijakan pemerintah tidak harus di lihat dari segi isolasi. Memang, faktor-faktor seperti itu sangat mungkin untuk berinteraksi satu sama lain. Selanjutnya, faktor-faktor tersebut cenderung untuk menjelaskan mengapa tingkat kepemilikan mayoritas negara-negara OECD meningkat secara bertahap dari waktu ke waktu atau pulih dari bawah pada tahun 1970-an sampai 1980-an.
2.5.1 Kerugian Biaya
Melihat dari fenomena mengapa tingkat kepemilikan bisnis menurun sebelum 1980-an, salah satu alasannya mungkin adalah perusahaan yang lebih kecil berada pada lemahnya pembiayaan. Dalam era masa produksi, perusahaan besar mampu memproduksi barang jauh lebih murah (skala ekonomi). Produksi massal juga mengartikan bahwa ukuran optimal tanaman (skala efisien minimum(MES)) membutuhkan perkembangan. Pengusaha kecil berpendapat bahwa lebih sulit untuk bersaing dengan meningkatkan volume, biaya jatuh, dan harga lebih murah. Perkembangan ukuran optimal tanaman memiliki dua efek lain : cenderung untuk mencegah pendatang baru dan konsentrasi di promosikan kepemilikan dalam suatu industri. Dampak lain dari konsolidasi kepemilikan adalah bahwa itu mengurangi ketidakpastian di pasar. Coase(1937) mengatakan bahwa perusahaan yang ingin menjual barang atau jasanya di pasar harus menampilkan dua biaya transaksi utama. Pertama, penjual harus mampu memasarkan/mengiklankan barang/jasa sementara pembeli harus mencari barang-barang/jasa. Kedua, tidak ada jaminan bahwa perusahaan akan mendapatkan pembayaran untuk barang/jasa tersebut. Oleh karena itu, mereka membutuhkan persyaratan untuk kontrak agar memastikan bahwa pembeli barang jasa tidak akan membatalkan pembayaran mereka.
Ketidakpastian tersebut menyebabkan Galbraith (1967) berpendapat bahwa masuk akal perusahaan untuk membatasi biaya transaksi tersebut. Dia berargumen bahwa cara ini yang terbaik yang bisa di lakukan oleh perusahaan yang lebih besar dan bekerjasama untuk memanipulasi perilaku pembeli melalui iklan dan pemasaran. Perusahaan besar juga dapat mengurangi ketidakpastian dengan mengintegrasikan bisnis mereka secara vertikal dengan orang lain dalam rantai pasokan. Pada intinya, perusahaan lebih besar berusaha untuk menghemat di pasar.  Istilahnya tangan terlihat dari arah manajerial telah menggantikan tangan tak terlihat dari mekanisme pasar. Namun, masih dalam koordinasi arus dan pengalokasian sumber daya di industri modern yang besar’ (Chandler,1990:95). Sebelumnya untuk tahun 1980 lalu, tarif kepemilikan usaha tampaknya telah menurun sebagai MES dan skala ekonomi menjadi lebih penting. Tak heran, karena itu, bahwa Boswell (1973) menyesalkan karena banyak perusahaan kecil tampaknya tidak efisien, tradisionalis, dan pembagian harta pribadi. Sektor perusahaan kecil secara keseluruhan dipandang bertentangan dengan kemajuan dan profesionalisme.
2.5.2    Perkembangan Teknologi
Bukti empiris yang terdapat dalam tabel menunjukkan bahwa tingkat kepemilikan bisnis umumnya mulai meningkat pada tahun 1980-an. Salah satu alasan untuk ini adalah perubahan teknologi dapat mengurangi pentingnya skala ekonomi dalam produksi. Alih-alih mengoptimalkan teknologi menjadi teknik produksi massal mirip dengan yang pertama kali di gunakan oleh Henry Ford, pengenalan teknologi baru (misalnya pembuatan desain dengan dibantu komputer, robot), proses organisasi (misalnya ‘hanya dalam waktu’) dan teknik manajemen (misalnya ‘manajemen kualitas total’) telah memiliki dampak yang besar pada struktur biaya manufaktur. Hal ini menjadi semakin mungkin bagi perusahaan untuk beroperasi pada ukuran optimal yang lebih rendah (Acs et al,1990).
Seiring dengan ini ‘de scaling’ (tanaman optimal berukuran kecil), teknologi baru memungkinkan fleksibilitas yang lebih besar (Kaplinsky,1990). Ini berarti mungkin untuk menghasilkan barang yang lebih efisien dan lebih dari barang-barang manufaktur (Carlsson,1989). Dampak lain dari perkembangan teknologi adalah metode ‘de-scaling’ dapat meningkatkan fleksibilitas perusahaan kecil dapat masuk ke sektor yang sebelumnya tidak dapat di masuki oleh mereka. Itu berarti perusahaan kecil dapat bersaing secara lebih efektif dengan perusahaan besar karena ada sedikit perbedaan efisiensi (Dosi,1989). Sebagai contoh, Acs. et al (1991) menemukan bahwa dalam dunia industri yang di kontrol dengan metode numerik yang secara luas di gunakan, perusahaan kecil telah membantu dalam meningkatkan  penjualan di pasar. Piore dan Sabel (1984) juga berpendapat bahwa teknologi baru menawarkan keuntungan yang berbeda bagi pengusaha kecil. Berdasarkan studi dari North Eastern and Central Italy (yang ketiga Italia), mereka menyarankan bahwa teknologi baru memungkinkan pengusaha kelas kecil otonom secara bersama-sama saling menguntungkan. Karena industri di daerah ini (misalnya tekstil, pakaian, sepatu) diperlukan tenaga kerja yang rajin dan terampil, pekerja individu mampu dengan cepat beradaptasi dengan produk baru. Perusahaan sendiri mampu membagi dan mengkoordinasikan fungsi-fungsi manajemen seperti pembelian dan pemasaran teknologi baru. Oleh karena itu, memungkinkan perusahaan kecil mendapatkan keuntungan yang kompetitif karena mereka mampu dengan fleksibel ‘mengkhususkan diri’. Konsekuensi dari pengenalan teknologi baru adalah bahwa hal itu menciptakan industri baru. Industri-industri baru (misalnya mikroelektronika, bioteknologi, dan komunikasi informasi teknologi) telah menyebabkan gagasan bahwa kita telah memasuki gelombang Kondratieff yang kelima. Gelombang ini, yang berlangsung sekitar 50 tahun, membawa mereka ke dalam perubahan ekonomi (Freeman,1991). Oleh karena itu, keempat gelombang sebelumnya di masa lalu yang terdiri dari (besi, uap dan kapas (1780-an ke 1840-an); baja, batu bara, dan kereta api (1850-1890); listrik, bahan kimia, mesin pembakaran internal, dan bahan sintesis (1890-1930); teknik listrik dan cahaya, petrokimia, dan pembuatan otomotif (1940-1980), telah nyata diubah oleh kegiatan ekonomi. Oleh karena itu, salah satu alasan mengapa tarif kepemilikan bisnis terus meningkat, mungkin karena pada tahun-tahun awal di gelombang Kondratieff, perusahaan baru dan kelas kecil bertanggung jawab untuk menciptakan dan menyebarkan teknologi baru.
2.5.3 Inovasi
Sejalan dengan argumen perkembangan teknologi, beberapa peneliti juga berpendapat bahwa munculnya kembali perusahaan-perusahaan kecil memiliki banyak kaitannya dengan kapasitas inovasi pada perusahaan kecil. Pada bagian ini perusahaan kecil dikatakan memiliki keuntungan kompetitif karena mereka kurang birokratis, dan karena lebih fleksibel merubah kondisi pasar (Rothwell, 1989; Scherer,1991). Kelambatan imitasi juga di rasa turun sehingga produk baru mudah untuk masuk pasar lebih cepat (Jovanovic, 2001). Mengingat hal ini, Acs dan Audretsch (1989) di Amerika Serikat dan Pavitt et al. (1987) di Inggris berpendapat bahwa UKM memiliki inovasi (per karyawan) yang lebih tinggi dari perusahaan besar di industri tertentu.  Banyaknya penekanan yang mungkin muncul dari dampak perubahan teknologi. Acs dan Audretsch (1990) menunjukkan fakta bahwa perusahaan-perusahaan paling inovatif di AS adalah perusahaan yang lebih besar.  Selain itu, perubahan teknologi adalah tidak baru : Klepper (2002) pada awal studinya, produksi massal,industri (otomotif, pertelevisian, ban dan penisilin) menunjukkan bahwa pada tahun-tahun awal industri ini memiliki tingkat keluar masuk yang sangat tinggi. Demikian pula, teknologi baru  tidak selalu memberikan keuntungan kompetitif bagi perusahaan kelas kecil. Teknologi baru memungkinkan perusahaan kelas besar untuk mengurangi waktu dalam membangun kembali usahanya dan memproduksi lebih banyak barang (economies of scope). MES dari industri juga akan naik.  Meskipun industri semikonduktor relatif baru, Ernst dan O’Connor menemukan bahwa hal tersebut kembali pada tahun 1992 dengan biaya sekitar US $ 1 Miliar untuk memfasilitasi produksi yang memenuhi MES. Sama halnya, Amin (1989) telah mempertanyakan gagasan bahwa spesialisasi yang fleksibel dapat membantu memasarkan produksi kerajinan. Sebaliknya, sarannya adalah perlunya perbaikan dari kondisi tenaga kerja (upah yang masih rendah, tempat kerja yang buruk dan keamanan kerja yang terbatas).
2.5.4 Fragmentasi Perusahaan Besar
Alasan lain yang mungkin untuk peningkatan di bidang kepemilikan bisnis sejak tahun 1980-an adalah  telah terjadi perubahan radikal dalam praktik bisnis perusahaan yang lebih besar. Shutt dan Whittington (1987), misalnya berpendapat bahwa kenaikan sektor ini (usaha kecil) tidak mewakili sumber independen dari kerja baru tetapi hanya transfer kerja dari unit besar ke kecil. Klaim ini berasal  dari tiga saran perubahan ekonomi untuk lingkungan perusahaan besar ini : memproduksi produk yang inovatif lebih beresiko ; konsumen dan kelompok ekonomi makro menjadi tidak pasti (misalnya kenaikan harga komoditas, keinginan konsumen lebih berubah-ubah), dan itu semakin sulit untuk mengontrol pekerja misalnya meningkatkan tuntutan upah, mogok kerja).
Menaggapi tantangan ini, Shutt dan Whittington (1987) berpendapat bahwa perusahaan yang lebih besar berusaha untuk tidak berintegrasi secara vertikal dengan gelombang aktivitas perusahaan yang berhenti ke dalam anak perusahaan atau operasi waralaba. Ide ini di dukung oleh Harrison (1994) yang berpendapat bahwa pertumbuhan usaha kecil yang semakin nampak merupakan hasil dari upaya yang terpadu dan di tentukan oleh perusahaan multinasional untuk meningkatkan fleksibilitas mereka. Oleh karena itu, Harrison mengutip dan menemukan  banyak perusahaan yang berkonsentrasi pada ‘kompetensi inti’ mereka, dan dengan demikian mereka berusaha untuk mentransfer risiko kepada perusahaan-perusahaan kecil. Secara empiris, Rannie (1991) memberikan dukungan untuk pendapat tersebut. Dia menunjukkan bahwa perusahaan besar merespons untuk tidak mengubah dengan disintegrasi secara vertikal tapi mengelola perusahan skala kecil ke dalam bagian hubungan kontrak. Perubahan serupa di kontrak kerja yang jelas dalam industri lain : pengiriman susu (Boyle,1994), salon (Drucker et al,1997) dan penerbitan buku (Stanworth dan Stanworth, 1995).
2.5.5 Pengembangan Sektor Jasa
Penerapan strategi fragmentasi oleh perusahaan yang lebih besar tidak di dukung oleh Hakim (1988a). Dia menunjukkan hanya beberapa perusahaan yang jumlahnya relatif sedikit berusaha untuk mengganti karyawannya agar mendukung fleksibilitas pekerja wiraswasta. Meski demikian, akan nampak bukti kuat adanya sifat permintaan konsumen yang berubah-ubah. Berharap agar konsumen puas dengan barang standar yang diproduksi secara massal, konsumen banyak yang mencari barang yang di buat khususnya dalam pelayanan perseorangan.  Misalnya, jumlah usaha jasa keuangan di Inggris yang meningkat dua kali lipat dari 80.000 pada tahun 1980 menjadi 160.000 pada tahun 1993. Demikian halnya, antara tahun 1994 dan 2003 layanan bisnis secara umum meningkat dari 314.000 menjadi 500.000.  Terjadi peningkatan sebesar 63%. Peneliti seperti Keeble et al.(1992) dan Bryson et al(1997) juga berpendapat bahwa alasan mengapa bisnis seperti konsultan manajemen dan medis, kesehatan dan penyedia layanan IT telah tumbuh dan berkembang karena perubahan sistemik dalam permintaan bisnis ke bisnis (B2B) jasa dan layanan konsumen rumah tangga dan pribadi.
Bisnis terutama usaha skala kecil, mungkin telah mampu mengeksploitasi sektor ini karena terdapat peluang dalam pengembangan sektor skala ekonomi mengingat konsumen sering melakukan pembelian. Selain itu, Keeble et.al (1992) dan Bryson et al (1997) berpendapat bisnis skala kecil memiliki keuntungan, mungkin lebih berwujud  seperti keunggulan kompetitif : yang menjadi perhatian paling penting bagi perusahaan jasa skala kecil adalah perhatian khusus terhadap kebutuhan klien/konsumen, keahlian atau produk khusus dan membangun reputasi (Bryson et al, 1997:352)
2.5.6 Perubahan di Pasar Tenaga Kerja
Bersamaan dengan perkembangan  teknologi untuk memenuhi kebutuhan yang lebih dari permintaan, peneliti telah menunjukkan perubahan di pasar tenaga kerja untuk menjelaskan pertumbuhan tingkat kepemilikan bisnis.  Misalnya, para peneliti telah memilih pertumbuhan penduduk, peningkatan kekayaan (Reynolds et al,1994), imigrasi (21,8% dari penduduk Inggris berasal dari etnis Pakistan yang berwiraswata pada tahun 2001-2002 (Tren Sosial,2002). Dan dari kesemuanya pengangguran menjadi penjelas dalam pertumbuhan tarif kepemilikan bisnis. Dalam konteks negara Inggris, Greene (2002) menunjukan bahwa tingkat pengangguran mencapai lebih dari tiga juta penduduk di tahun 1980-an. Bersama dengan  hal tersebut, pada tahun 1980 juga terjadi peningkatan drastis pada populasi perusahaan. Dampaknya,  banyak individu menganggur dan beralih menjadi wirausaha karena kurangnya alternatif pekerjaan lain.
2.5.7 Kebijakan Umum
Penjelasan lain untuk perubahan tarif kepemilikan bisnis adalah peran yang dimainkan oleh kebijakan publik sejak 1980-an. Greene(2002) berpendapat bahwa menghadapi tingkat pengangguran yang belum pernah terjadi sebelumnya di tahun 1980-an, pemerintah Inggris memiliki waktu dengan berusaha untuk menggeser preferensi risiko individu pada pendirian bisnis mereka sendiri. Oleh karena itu, mereka di dukung oleh publik atau skema kuasi yang didukung publik (mis. Skema Penyisihan Perusahaan, Usaha Kecil Skema Jaminan Kredit, Zona Wirausaha, dan Kebijakan Pangeran) yang berusaha untuk memperbaiki kondisi dalam mendirikan sebuah bisnis.
Demikian pula, sebagai lanjutan dari deregulasi Inggris dan privatisasi dari banyak utilitas publik pada 1980-an, lain dengan pemerintah OECD telah berusaha untuk menerapkan kebijakan dengan keyakinan bahwa ekonomi bisa lebih diatur dan menghambat kemampuan wirausaha perseorangan. Misalnya, Perancis telah melihat penurunan jangka panjang dalam tarif bisnis kepemilikan dengan berupaya mengurangi beban administrasi yang di hadapi oleh individu dalam mendirikan sebuah bisnis (Henriquez et al, 2002).
Pada bagian ini telah memberikan beberapa penjelasan yang menguraikan tentang peningkatan tingkat kepemilikan bisnis secara drastis di banyak negara OECD. Oleh karena itu, sebelum tahun 1980-an, lingkungan bisnis dinilai tidak bertentangan dengan perusahaan kecil mengingat bahwa permintaan konsumen relatif stabil dan ada keuntungan biaya dalam mengembangkan skala ekonomi. Sejak 1980-an, permintaan konsumen menjadi tidak pasti dan lebih menuntut. Hal ini telah menyebabkan perkembagan pada tingkat tertentu. Sama halnya, perubahan pasar tenaga kerja dan kebijakan pemerintah mungkin juga telah membantu mengembangkan kecenderungan masyarakat dalam menyiapkan bisnis.
2.7 Puzzle AS yang berbentuk ‘n’
Pada bagian sebelumnya dijelaskan mengapa banyak negara OECD memiliki tingkat kepemilikan usaha yang meningkat. Interpretasi tersebut juga masuk ke dalam kelompok ‘decreasers’ seperti Perancis dan Jepang karena diyakini bahwa negara-negara ini di dominasi oleh perusahaan besar dan peraturan yang memberatkan. Apa yang menyebabkan AS memiliki pola kepemilikan usaha berbentuk ‘n’ atau mengapa tarif wirausaha menurun di AS. Itu menjadi amat penting di karenakan AS dipandang sebagai model perkembangan teknologi, memiliki inovasi yang pesat, dan negara yang memiliki andil besar dalam laju pertumbuhan ekonomi global di tahun 1990-an. AS juga di pandang sebagai negara yang mendorong adanya kewirausahaan dan memiliki sangat sedikit biaya administrasi yang dapat menghambat individu dalam mendirikan atau mengembangkan bisnis (Global Entrepreneurship Monitor (GEM), 2004). Satu sebab yang menjelaskan distribusi kepemilikan bisnis yang berbentuk ‘n’ di AS adalah dataset COMPENDIA adalah ukuran parsial kepemilikan bisnis di Amerika. Karena COMPENDIA dirancang untuk mengukur tarif kepemilikan bisnis internasional, ukuran tertentu yang telah dipilih (jumlah tak berhubungan dan di masukkan pada non-pertanian dan wiraswasta sebagai bagian dari angkatan kerja) mungkin dikatakan buruk dalam menggambarkan kewirausahaan di AS.
Sebelumnya pada tabel 2.5 menunjukkan bahwa AS memiliki perusahaan yang signifikan lebih besar dari Eropa dan Jepang. Data COMPENDIA mungkin dianggap meremehkan kontribusi perusahaan yang lebih besar untuk berwirausaha di AS karena mereka mengukur tingkat kepemilikan bisnis daripada kontribusi dari bisnis tersebut. Memang, mengingat AS adalah pasar yang terintegrasi dengan tenaga kerja yang fleksibel. ENSR (2004) telah menyarankan bahwa perusahaan besar telah mendominasi AS karena dimungkinkan dapat mengembangkan ruang lingkup dan skala ekonomi. Implikasinya, adalah pertumbuhan ekonomi AS adalah karena kegiatan ekonomi yang di lakukan oleh perusahaan yang lebih besar. Penjelasan lain yang potensial bagi AS adalah pola berbentuk ‘n’ sesuai dengan perekonomian AS.
Carree et al (2002) berpendapat bahwa ada tingkat keseimbangan antara pembangunan ekonomi dengan kepemilikan bisnis. Menggunakan data COMPENDIA yang sama mereka menemukan bahwa negara-negara yang menyimpang dari tingkat ekuilibrum menderita : ‘oleh dan besar’, titik penyimpangan lima persen menyiratkan adanya kerugian pertumbuhan tiga persen selama periode empat tahun. Berdasarkan argumen Caree, Ia menemukan bahwa AS cenderung mengikuti tingkat ekuilibrum, hal ini kemudian dapat memberikan beberapa wawasan kedalam kinerja ekonomi AS. Argumen ini adalah argumen dasar statis. Mereka menunjuk pada apa yang terjadi daripada mengapa itu terjadi. Misalnya, ekonomi AS mungkin akan di dominasi oleh perusahaan besar multinasional seperti Microsoft atau Dell, tapi hal ini mengabaikan bahwa prusahaan relatif masih baru.
Jovanovic (2001) telah menunjukkan untuk periode 1926-1996, perusahaan lebih kecil secara signifikan mengungguli perusahaan yang lebih besar dan mapan.  Penjelasan yang lebih dinamis bagi AS adalah yang terpenting bukan tingkat kepemilikan bisnis tapi tingkat ‘churn’ (tingkat keluar masuk) dalam perekonomian. Karena AS adalah tempat yang relatif sedikit beban regulasi pada bisnis start-up, hambatan masuk lebih rendahdan pada gilirannya mendorong lebih besar perusahaan baru. Pendatang baru yang dapat meningkatkan persaingan di sektor ini sehingga untuk memastikannya adalah perusahaan yang keluar adalah tidak efisien di sektor ini. Dampak secara keseluruhan, adalah untuk menaikkan efisiensi dan inovasi di sektor bisnis. Ada beberapa bukti dinamis yang mendukung gagasan dari peran perusahaan baru. GEM (2004),misalnya terlihat dari jumlah individu di dalam perekonomian mengingat pada pendirian perusahaan baru atau yang memiliki usaha baru. GEM (2004) menyebut ini sebagai nilai total kegiatan kewirausahaan (TEA). Negara serikat seperti Australia dan Selandia Baru memiliki tingkat TEA yang tertinggi diantara negara OECD pada tahun 2004. Ia menjelaskan lagi bahwa ada hubungan antara TEA dan pertumbuhan PDB. Demikian halnya yang terjadi di Inggris, Disney et al (2003) berpendapat bahwa sifat dinamis dari perusahaan yang muncul dan hilang dapat memberikan dampak besar pada produktivitas. Antara tahun 1980 dan 1982, perusahaan perseorangan (25% dari tenaga kerja manufaktur) tidak mengalami pertumbuhan produktivitas selama bertahan, semua keuntungan produktivitas untuk kelompok ini berasal dari biaya keluar masuk. Bahkan mungkin secara tak sengaja pendaftaran PPN dan pendaftaran kembali tarif untuk Inggris merupakan cerminan kesenjangan regional. Daerah makmur seperti London dan bagian tenggara (mis Sussex dan Buckingham) memiliki tingkat pendaftaran PPN  dari angka  36.600 dan 30.300 yang masing-masing pada tahun 2003. Tarif pendaftaran kembali di sana juga tergolong tinggi : 34.600 (London) dan 27.800 (bagian tenggara Inggris). Dibandingkan dengan pendaftaran tarif/deregistration adalah 4.600/4.000 untuk daerah kurang makmur seperti bagian timur laut Inggris (mis. Tyne dan Wear) atau 3.800/4.000 untuk Irlandia Utara. Armington dan Acs (2002) berpendapat juga bahwa kesenjangan antar daerah serupa terjadi di AS. Pada tahun 1994, rata-rata angka kemunculan perusahaan tahunan di AS adalah 3,85 per 1.000 tenaga kerja. Daerah yang berada di atas rata-rata adalah daerah Selatan dan Barat AS, smentara daerah Timur Laut dan Barat Tengah dari AS jauh di bawah rata-rata ini. Bukti ini menunjukkan bahwa pola kepemilikan bisnis berbentuk ‘n’ ini adalah hasil dari sifat kedinamisan dari keluar masuknya perusahaan. Jika demikian, hal ini mungkin bisa di antisipasi karena AS akan memiliki tingkat keluar masuk perusahaan yang lebih tinggi di bandingkan negara lainnya.
Bukti dari 10 negara OECD menunjukkan (Gambar 2.4) bahwa hal ini tidak terjadi. Gambar tersebut menunjukkan bahwa AS cenderung memiliki tingkat lebih tinggi dari manufaktur dan jasa keluar dan masuk dari ke sembilan negara lainnya tetapi perbedaan ini cenderung relatif kecil. Selain itu, hanya mendorong angka yang belum besar untuk pendatang baru ke sektor-sektor tertentu dan tidak selalu meningkatkan efisiensi atau inovasi. Banyak dari orang-orang yang mungkin memiliki keterampilan yang kurang cocok dengan usaha yang di jalaninya. Jika mereka masuk, mereka mungkin tidak memiliki dampak besar pada efisiensi atau inovasi karena mereka tidak memiliki keterampilan untuk bersaing secara efektif dengan perusahaan lain yang ada di sektor tersebut (Greene et al,2004).
Penjelasan lain yang sama dinamisnya untuk tarif kepemilikan bisnis di AS adalah peran yang di mainkan oleh perusahaan dalam percepatan pertumbuhan ekonomi. Yang terpenting di sini adalah pola aktivitas perusahaan bukan dari tingkat kepemilikan bisnis. Perusahaan yang memiliki pertumbuhan yang cepat dianggap penting. Storey(1985) menunjukkan bahwa selama sepuluh tahun (dengan tingkat keluar perusahaan dari 60%), 4% dari perusahaan yang akan berkontribusi, dan 50 % dari tenaga kerja. Hasil tersebut cukup khas. Birch et al (1997) menunjukkan bahwa sekitar 3% dari semua perusahaan AS yang bertanggung jawab sekitar 70% dari pertumbuhan pekerjaan kotor. Oleh karena itu, argumen bahwa AS memiliki tingkat pertumbuhan populasi wirausaha yang lebih tinggi di dukung oleh Scarpetta et al (2002) yang menyarankan bahwa AS tidak seperti Uni Eropa yang memiliki peraturan lebih rendah dan undang-undang ketenagakerjaan lebih ketat. Hal ini menunjukkan bahwa pengusaha skala kecil dapat masuk ke pasar dengan menguji ide-ide yang mereka miliki. Selanjutnya, mereka menemukan bahwa ide-ide mereka baru atau efisien dan mampu berkembang. Dampak dari hal tersebut di tunjukkan pada bagan di bawah ini yang menunjukkan keuntungan kerja dari perusahaan-perusahaan yang masih ada selama du atahun (sebagai persentase dari awal kerja).
Bagan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa perusahaan AS memiliki pertumbuhan tarif kerja yang dua kali lipat lebih dari negara Uni Eropa terdekat (Finlandia) dan lebih dari empat kali lipat dari ekonomi seperti Inggris atau Denmark. Bukti ini menunjukkan bahwa yang terpenting adalah perusahaan yang pertumbuhannya cepat. Namun,seharusnya tidak di asumsikan bahwa tarif keluar masuk itu tidak penting. Scarpetta et al (2002) juga menunjukkan bahwa akun keluar masuk sekitar 20-40% dari total pertumbuhan produktivitas. Bagian ini menunjukkan bahwa ada berbagai alasan untuk pola tarif kepemilikan bisnis yang berbentuk ‘n’ di AS. Beberapa mungkin karena pengukuran masalah, ukuran relatif, dan integrasi ekonomi AS atau karena AS lebih baik dalam menyeimbangkan tingkat kepemilikan bisnisnya denga pembangunan ekonomi. Bagian ini juga menunjukkan bahwa ada penjelasan yang lebih dinamis yaitu pengaruh perusahaan penghasil susu dan perusahaan yang pertumbuhan ekonominya cepat. Faktor-faktor ini bukan interpretasi statis yang kemungkinan hanya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di AS dan negara-negara OECD lainnya.



BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pada bab ini telah berupaya memberikan berbagai definisi internasional tentang perusahaan skala kecil. Hal ini menunjukkan bahwa definisinya bervariasi secara internasional. Meski demikian telah diterangkan masalah metodologis menggunakan survei campuran (Survei Angkatan Kerja) dan data registrasi (mis pendaftaran PPN), Pada bagian pembahasan dengan jelas menunjukkan bahwa UKM secara luas sudah di lakukan oleh sebagian besar perusahaan dalam perekonomian tertentu. Pada bagian pembahasan juga menunjukkan bahwa jumlah perusahaan skala kecil cenderung meningkat selama 30 tahun terakhir di sebagian besar negara-negara OECD. Berbagai penjelasan mengenai perubahan dalam struktur biaya industri, perkembangan teknologi yang pesat, inovasi, peningkatan ekonomi sektor jasa, perubahan di pasar tenaga kerja dan pergeseran dalam kebijakan pemerintah telah menjelaskan mengapa pola umum kepemilikan bisnis terus meningkat atau berbentuk ‘U’. Bagaimanapun juga semua tidak harus dilihat secara terpisah-pisah.
Selain kedua pola tersebut yaitu yang berbentuk pola “U” dan negara ‘increasers’ ada pula negara ‘decreasers’ seperti Perancis dan Jepang. Konsentrasi utama finalnya ada di Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa ada berbagai alasan statis untuk pola AS berbentuk ‘n’ yaitu masalah pengukuran, pentingnya perusahaan yang lebih besar, atau tingkat ekuilibrum. Dua interpretasi yang lebih dinamis juga di tawarkan seperti keluar masuknya perusahaan dan pentingnya percepatan pertumbuhan perusahaan. Sementara kontribusi sebenarnya dari dua interpretasi ini masih di perdebatkan, jelas bahwa yang penting adalah bukan tingkat kepemilikan bisnis yang sebenarnya statis tetapi bersifat dinamis.
3.2 SARAN
Dari penjelasan mengenai kepemilikan usaha kecil skala menengah kebawah yang di tampilkan dalam tabel 2.7 dapat diketahui bahwa perlu adanya peningkatan dalam beberapa sektor seperti sektor jasa, keuangan, agroteknologi dsb agar kepemilikan usaha kecil terus bertambah. Tak hanya dari segi sektoral saja namun, faktor yang menjadi penghambat dari suku kepemilikan bisnis harus dapat di hindari dan faktor-faktor yang dapat mempercepat suku kepemilikan bisnis skala kecil harus terus di tambah juga.



DAFTAR PUSTAKA

Carter, S., & Jones-Evan, D. (2006). Enterprise and Small Business. Harlow: Prentice Hall .



Tidak ada komentar:

Posting Komentar