Adalah
seorang tua yang sedang menunggu ajalnya, ia terbaring lemah di tempat tidurnya
tanpa bisa berkata sepatah kata pun. Dan pada detik kematiannya ia tak bisa
mengucapkan pesan terakhirnya pada kedua putraya. Ia hanya sanggup menunjuk
jarinya ke sebuah laci di almarinya. Sesudah itu, lelaki tua itupun meninggal.
Kedua putranya pun bertanya-tanya ada apakah di dalam laci tersebut. Sang ayah pun meninggal dan anak yang sulung
memberanikan diri untuk memebuka laci almari tersebut. Setelah di buka didalamnya
terdapat dua buah bungkusan. Bungkusan pertama berisi liontin kalung yang
bertahtakan permata dan di tengah-tengahnya terdapat berlian yang cukup mahal.
Sedangkan bingkisan yang satunya hanya berisi satu kalung perak. Sang anak
sulung pun berpikir untuk mengambil kalung permata tersebut. Sedangkan kalung
perak akan di berikan kepada adiknya. Karena ia adalah anak pertama dan sudah
berjasa dalam mengembangkan usaha bapaknya. Sebenarnya sang adik sudah memiliki
firasat akan kedua liontin ini pasti ada arti di balik liontin yang di berikan
ayahnya kepada mereka berdua.
Sang anak bungsu kemudian berniat untuk
meninggalkan rumah untuk pergi merantau. Ia pun menitipkan beberapa uang kepada
kakaknya. Sang kakak yang masih sedih tidak terlalu memperdulikan cek yang di
berikan oleh adiknya. Lambat laun, sang adik masih tetap bekerja sebagai
seorang seniman sedangkan kakaknya tetap melanjutkan usaha mendiang ayahnya. Sebagai
seorang pelukis, sang adik masih terus fokus pada pekerjaannya walaupun kadang
pasang surut. Tahu sendiri pekerjaan seorang seniman itu seperti apa. Suatu
ketika ia pun terus menatap kalung milik ayahnya yang di berikan kepadanya.
Sampai ia menemukan sebuah tulisan di pinggir sisi kalung tersebut dengan
tulisn “ini akan segera berubah”. Ia pun
penasaran dengan ungkapan kata-kata di liontin tersebut. Dia kemudian
memasukkan liontin tersebut ke dalam air yang di dalamnya ada bunga tujuh rupa.
Namun, apa yang terjadi? Tidak terjadi
apa-apa dengan liontin tersebut.
Suatu
malam ia pun bermimpi dengan mendiang ayahnya. Ia bermimpi bahwa ayahnya sudah
hidup bahagia di surga. Sang ayah memberi nasihat pada adiknya tersebut, bahwa
manusia tidak hidu di dalam waktu, melainkan waktulah yang hidup di dalam
kesadaran manusia. waktu akan cepat berlalu. Senang dan sedih itu sudah biasa.
Ada kalany manusia hidup bergelimang harta dan ada kalanya ia melarat.
Kemudian
ia bangun dari tidurnya. Sang adik pun dengan senang berkata bahwa hidupnya
sekarang sudah bahagia. Sementara sang adik yang hidup nelangsa tapi ia tidak
menghiraukan kehidupannya yang sekarang. Toh, pada akhinya jika ia tetap
berusaha nantinya usaha yang ia lakukan akan membuahkan hasil yang maksimal.
berbeda dengan kehidupan kakaknya, sang kakak suatu ketika mendapatkan musibah.
Toko milik ayahnya kebakaran dan semua harta benda yang di milikinya ludes
habis. Karena sudah frustasi sang kakak pun menjadi tekanan bathin dan menjadi
gila. Sang adik yang mendengar kabar dari kakanya merasa kasihan dan
mengunjungi tempa kakanya di desa. Kehidupan sang adik sekarang sudah bahagia
dan sudah tidak melarat lagi karena ia percaya dengan apa yang telah di
takdirkan oleh Tuhan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia jika kita terus
berusaha. Sang adik keudian menemani kakanya yang sakit di desa sambil
meneruskan kegiatan usahanya sebagai seorang seniman.
Kita
semua adalah seorang partisipan di dunia ini. Kita tidak hidup di dalam waktu
melainkan waktu yang hidup di dalam kesadaran manusia. tak selamanya seseorang
akan mendapatkan kesenangan pasti ada kalanya ia akan mendapatkan cobaan dan
masalah. Yang menjadi kunci keberhasilan dalam melewati masalah tersebut adalah
kesabaran dan sikap terus berusaha serta tidak mudah menyerah.
By
: Moh_Kuz