Rabu, 09 November 2016

ARTI DARI DUA BUAH KALUNG



Adalah seorang tua yang sedang menunggu ajalnya, ia terbaring lemah di tempat tidurnya tanpa bisa berkata sepatah kata pun. Dan pada detik kematiannya ia tak bisa mengucapkan pesan terakhirnya pada kedua putraya. Ia hanya sanggup menunjuk jarinya ke sebuah laci di almarinya. Sesudah itu, lelaki tua itupun meninggal. Kedua putranya pun bertanya-tanya ada apakah di dalam laci tersebut.  Sang ayah pun meninggal dan anak yang sulung memberanikan diri untuk memebuka laci almari tersebut. Setelah di buka didalamnya terdapat dua buah bungkusan. Bungkusan pertama berisi liontin kalung yang bertahtakan permata dan di tengah-tengahnya terdapat berlian yang cukup mahal. Sedangkan bingkisan yang satunya hanya berisi satu kalung perak. Sang anak sulung pun berpikir untuk mengambil kalung permata tersebut. Sedangkan kalung perak akan di berikan kepada adiknya. Karena ia adalah anak pertama dan sudah berjasa dalam mengembangkan usaha bapaknya. Sebenarnya sang adik sudah memiliki firasat akan kedua liontin ini pasti ada arti di balik liontin yang di berikan ayahnya kepada mereka berdua. 
Sang anak bungsu kemudian berniat untuk meninggalkan rumah untuk pergi merantau. Ia pun menitipkan beberapa uang kepada kakaknya. Sang kakak yang masih sedih tidak terlalu memperdulikan cek yang di berikan oleh adiknya. Lambat laun, sang adik masih tetap bekerja sebagai seorang seniman sedangkan kakaknya tetap melanjutkan usaha mendiang ayahnya. Sebagai seorang pelukis, sang adik masih terus fokus pada pekerjaannya walaupun kadang pasang surut. Tahu sendiri pekerjaan seorang seniman itu seperti apa. Suatu ketika ia pun terus menatap kalung milik ayahnya yang di berikan kepadanya. Sampai ia menemukan sebuah tulisan di pinggir sisi kalung tersebut dengan tulisn “ini akan segera berubah”.  Ia pun penasaran dengan ungkapan kata-kata di liontin tersebut. Dia kemudian memasukkan liontin tersebut ke dalam air yang di dalamnya ada bunga tujuh rupa. Namun, apa yang terjadi?  Tidak terjadi apa-apa dengan liontin tersebut.
Suatu malam ia pun bermimpi dengan mendiang ayahnya. Ia bermimpi bahwa ayahnya sudah hidup bahagia di surga. Sang ayah memberi nasihat pada adiknya tersebut, bahwa manusia tidak hidu di dalam waktu, melainkan waktulah yang hidup di dalam kesadaran manusia. waktu akan cepat berlalu. Senang dan sedih itu sudah biasa. Ada kalany manusia hidup bergelimang harta dan ada kalanya ia melarat.
Kemudian ia bangun dari tidurnya. Sang adik pun dengan senang berkata bahwa hidupnya sekarang sudah bahagia. Sementara sang adik yang hidup nelangsa tapi ia tidak menghiraukan kehidupannya yang sekarang. Toh, pada akhinya jika ia tetap berusaha nantinya usaha yang ia lakukan akan membuahkan hasil yang maksimal. berbeda dengan kehidupan kakaknya, sang kakak suatu ketika mendapatkan musibah. Toko milik ayahnya kebakaran dan semua harta benda yang di milikinya ludes habis. Karena sudah frustasi sang kakak pun menjadi tekanan bathin dan menjadi gila. Sang adik yang mendengar kabar dari kakanya merasa kasihan dan mengunjungi tempa kakanya di desa. Kehidupan sang adik sekarang sudah bahagia dan sudah tidak melarat lagi karena ia percaya dengan apa yang telah di takdirkan oleh Tuhan bahwa tidak ada usaha yang sia-sia jika kita terus berusaha. Sang adik keudian menemani kakanya yang sakit di desa sambil meneruskan kegiatan usahanya sebagai seorang seniman.
Kita semua adalah seorang partisipan di dunia ini. Kita tidak hidup di dalam waktu melainkan waktu yang hidup di dalam kesadaran manusia. tak selamanya seseorang akan mendapatkan kesenangan pasti ada kalanya ia akan mendapatkan cobaan dan masalah. Yang menjadi kunci keberhasilan dalam melewati masalah tersebut adalah kesabaran dan sikap terus berusaha serta tidak mudah menyerah.

By : Moh_Kuz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar